Oleh Pixabay

Loading

Hampir tiap hari Minggu namanya disebutkan dalam sebuah pengakuan bersama seluruh umat kristen di semua tempat di sepanjang waktu. Pontius Pilatus, nama yang tak asing bagi yang sering mengumandangkan Pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan Nicea Konstantinopel.

“Menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus.” Begitu baris kata yang dilafalkan dalam dua pengakuan di atas.

Ya, memang Pilatus menjadi wali negeri atau gubernur, sebagai wakil pemerintahan Romawi—yang saat itu dipimpin oleh Tiberius—di wilayah Yudea sekitar tahun 26-37 M. Dialah yang kemudian mengadili dan akhirnya menjatuhkan vonis hukuman mati berupa penyaliban kepada Yesus sekitar tahun 30 M.

Lalu, siapakah Pilatus di luar yang dikisahkan langsung Alkitab?

“Matanya teramat biru dan otak setajam pedang yang tergantung di pinggangnya,” ‘Claudia’, istri Pilatus menggambarkan demikian dalam sebuah novel. Catatan tentang Pilatus sebelum menjadi Gubernur di Yudea tidaklah banyak, termasuk setelah ia ditarik kembali ke Roma di kemudian hari. Terdapat sumber mengatakan bahwa ada kemungkinan, Pilatus lahir dari lapisan atas masyarakat Romawi, keluarga kaya. Ia menjadi gubernur lewat capaian dalam karier militer sebagai perwira. Ia adalah salah satu pemimpin yang karismatik dan mencintai keluarga.

Pilatus menggantikan Valerius Gratus sebagai Gubernur di Yudea tahun 26 M. Celakanya, dia mengawali pemerintahan yang kurang baik akibat ia memerintahkan legiun, unit militer Romawi untuk membawa patung dada Kaisar Tiberius sebagai lambang atau panji untuk dipasang di Yerusalem. Bagi orang Yahudi, patung semacam itu dipandang sebagai berhala. Sehingga kekacauan tidak dapat dihindarkan.

Flavius Yosefus, sejarawan sekaligus penulis “Jewish War” menuliskan bahwa Pilatus juga ditengarai menggunakan uang pembendaharaan Bait Suci untuk pembangunan saluran air ke Yerusalem. Philo, penulis kuno dari Alexandria juga mengatakan Pilatus diduga sering melakukan penyuapan, penghinaan, penyiksaan, dan eksekusi tanpa pengadilan serta kekejaman yang sangta menyakitkan. Akhirnya, orang Yahudi melakukan protes saat tentara Romawi mengadakan pawai di jalanan Yerusalem sambil membawa patung dalam sebuah perayaan. Kaisar kemudian memerintahkan agar patung yang dijadikan panji itu dicabut demi menghindari kekacauan yang lebih besar.

Tak lama setelah menjabat, Pilatus juga diperhadapkan pada situasi yang sangat genting. Dia terpaksa mengadili dan menjatuhkan hukuman kepada Yesus, yang berujung pada penyaliban di Golgota. Pilatus menjadi sosok yang kontroversial termasuk dalam putusan menjatuhkan vonis mati kepada orang yang ia sendiri tidak temukan kesalahannya. Bahkan istrinya mengirimkan pesan kepadanya, “jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia [Yesus] aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.”

Pilatus juga dianggap bertanggung jawab atas pembataian sekelompok orang Samaria saat menaiki Gunung Gerizim. Atas serangkaian kejadian ini, tahun 36 M Pilatus akhirnya ditarik kembali ke Roma karena dianggap terlalu keras dan tidak dapat mengamankan Yudea. Ia dinyatakan akan dihukum, namun hukuman itu berhenti saat Tiberius, sang kaisar, wafat pada tahun 37 M. Ia digantikan Marcellus menjadi Gubernur di Yudea.