Loading

Itu judul yang digunakan pemateri dalam kelas pertama Komunitas Menulis Online (KMO) batch 25, tiga hari yang lalu. Kelas belejar menulis lewat Telegram.

Awalnya KMO didirikan sendirian dan diawali di Blackberry Messenger. Kini sudah berada di batch 25, saya satu dari sekian banyak murid yang sedang mencoba menimba ilmu di sana. Selain dapat ilmu, tentu dapat koneksi dalam dunia literasi. Karena banyaknya peserta, grup WA sudah tak mampu menampung ribuan peserta, entah yang sudah alumni maupun yang masih sedang ikut kelas.

Materi I disampaikan oleh Tendi Murti, penulis “Ikuti Saja Mau-Nya” dan “Legacy”.

“Kenapa temen-temen ingin nulis? Jawab di hati aja.” Begitu tanya Kang Tendi di awal materi.

Pertanyaan ini penting sebagai alasan sekaligus motivasi untuk menulis. Menurutnya, sebuah impian yang besar akan memunculkan gagasan-gagasan besar. Menulis bukan lagi masalah keinginan, tapi menjadi sebuah keharusan.

Propaganda melalui tulisan sangat masif. Entah itu bersifat negrati maupun positif. Media sosial menjadi alat atau media propaganda yang paling ramai, termasuk media penyebaran berita bohong. Dan ini tak bisa dibiarkan, kebohongan mengusai media, termasuk media sosial. Tuliskan sependek apapun akan berpengaruh ke banyak orang yang membacanya. Karena itu, tulisan perlu diisi dengan tulisan kebaikan.

“Rasakan dulu, yakin dulu bahwa kita memang layak untuk menjadi penulis. Sebelum menulis sesuatu seharusnya kita percaya terlebih dahulu bahwa kita adalah seorang penulis.” Itu penyampaian Kang Tendi di sesi selanjutnya.

“Karena ketika kita percaya bahwa kita adalah seorang penulis, tulisan-tulisan kita akan lebih tajam, belajar kita akan lebih maksimal. Keyakinan yang dalam akan memunculkan kekuatan yang lebih dahsyat,” lanjutnya.

Jadi, saat sudah memutuskan untuk menjadi penulis, maka ditolak penerbit, disepelekan penulis senior, ditertawakan teman-teman, ya menjadi bumbu penyedap aja. Itu justru bisa menjadi batu loncatan penting demi mewujudkan impian, menulis untuk peradaban.